yang terngiang dari perjalanan ke Baduy

Ada beberapa hal yang jadi catatanku dari perjalanan ke Baduy di awal Maret lalu:

  • perjalanan dengan mobil yang ditempuh tidak sejauh dugaanku,
  • namun apa yang kulihat dan kualami membuatku sadar bahwa Lebak memang rawan longsor. Dan memang wilayahnya luas, dan rasanya kok yang kutemui di perjalanan menuju pantai-pantai di wonosari is better than kondisi di Lebak.
  • In**maret dan Al**mart banyak banget kami temui sepanjang jalan.
  • Orang-orang Baduy memiliki kulit yang halus, bersih, bebas jerawat. Mungkin karena mereka sama sekali tidak terpapar bahan kimia, misal pasta gigi, sabun, sampo, apalagi pestusida.
  • Kemampuan mereka untuk berjalan kaki sangat cepat, bahkan tanpa alas kaki.
  • Saat kami bercucuran keringat, terengah karena perjalanan dan berhenti karena ingin membasahi kerongkongan, well, mereka woles saja, ga kelihatan ada keringat sebiji pun di wajahnya. Luar biasa.
  • Kemana pun mereka pergi, selalu membawa golok. Terpakai saat kami memerlukan tongkat untuk menopang jalan, cuss, golok dikeluarkan untuk memotong ranting pohon.
  • Area yang mereka tempati adalah perbukitan, dan di bukit-bukit itulah padi ditanam. bukan dalam bentuk sawah yang membentang ya, tapi bukit-bukit itu dalam kondisi aslinya.
  • Cara mereka menanam padi sama dengan cara yang aku tahu dilakukan petani untuk menanam jagung. Lubang dibuat di tanah, kemudian biji padi dimasukkan dalam lubang dan ditutup dengan tanah. Sesudahnya, benih padi akan keluar dari dalam tanah, dan ditunggu sampe panen.
  • Kadang padi diberi pupuk organik, diambil dari tuak nira. Mungkin juga dicampur dengan ramuan-ramuan lain yang disertai doa-doa.
  • Di pinggir sawah yang kami lewati, ada beberapa tiang tinggi, bahkan sangat tinggi. Dibuat dari satu atau dua batang bambu dan diletakkan di atas pohon yang tinggi. Batang bambu tersebut dilubangi sehingga jika tertiup angin akan mengeluarkan suara cukup nyaring. Alat itu dipakai untuk mengusir burung dari tanaman padi di sawah, sebagai indikator kekuatan angin sekaligus sebagai penanda tempat (karena terlihat dari tempat yang jauh).
  • Madu hutan nya ada dua jenis, satu berwarna keemasan seperti madu-madu lainnya. ada juga yang berwarna lebih gelap, dari tawon kayu yang badannya lebih kecil dari lebah biasa. Aku mencoba yang madu biasa, dan rasanya enak, tidak terlalu manis.
  • tidak ada makanan yang berkesan dalam perjalanan ini selain markisa kuning yang segar (untuk beberapa teman: sangat asam).

Untuk cerita perjalanannya, cek di postingan sebelum ini yaa…baduy2

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s